Banner BlogPartner Backlink.co.id Biografi Lengkap Mama Asyari Bakom Biografi Lengkap Mama Asyari Bakom - Auladus Sholihin

Biografi Lengkap Mama Asyari Bakom

Biografi Lengkap Mama Asy'ari Bakom
ilustrasi gambar oleh pixabay (edited by auladus-sholihin.com)

Biografi Lengkap Mama Asyari Bakom

KH. Asyari Bakom adalah salah seorang kyai kharismatik yang sangat besar pengaruhnya di kalangan masyarakat. Itu karena ribuan murid telah dilahirkan oleh ketulusan dan keikhlasan beliau dalam mendidik dan membimbing mereka, hingga mengabdi di masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh KH. Asyari selama hidupnya..

Kyai penganut Tarekat Qodiriyah wa An Naqsyabandiyah yang berasal dari Banten ini, telah memulai syiar Islam di Bogor sejak lama. Terutama sejak kedatangannya di Bogor, tempat ia berkiprah hingga akhir hayatnya..

Hidupnya disumbangsihkan untuk membimbing, mendidik, dan membina umat melalui berbagai kegiatan keagamaan. Khususnya melalui tabligh, pesantren, dan majelis-majelis ilmu..

KH. Asyari ini lebih dikenal dengan sebutan Mama Bakom. Tidak diketahui secara pasti kapan KH. Asyari dilahirkan. Namun berdasarkan keterangan dari salah seorang keturunannya yaitu KH. Tubagus Kholidi, diperoleh keterangan bahwa KH. Asyari hidup satu kurun waktu dengan KH. Bakri Plered dan KH. Asnawi Caringin Banten..

Ya karena kedua kyai terkemuka tersebut, pernah mengalami masa kebersamaan dengan KH. Asyari pada saat belajar menuntut ilmu di Mekkah kepada Syekh Nawawi Al-Bantany. Jadi berdasarkan catatan sejarah itu, beliau diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1850-an.

Secara garis keturunan, silsilah KH. Asyari secara berurutan terdiri dari KH. Asyari bin KH. Khalif bin KH. Mas Sajidin bin KH. Mas Majid bin KH. Mas Sya’ban bin KH. Mukhsin bin KH. Mas Jami bin Nyai Mas Basmi bin KH. Mas Singa bin KH. Mas Qodir bin KH. Mas Asma bin Nyai Mas Gandagan bin KH. Kadu Hejo Waliputih Kartapura..

Namun berdasarkan riwayat yang dibacakan salah seorang keturunan lainnya yaitu KH. Oha atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Oha (pada pembacaan manaqib KH. Ayari di sebuah acara Haulnya beliau), disebutkan bahwa KH. Kadu Hejo adalah putra Raden Ahmad Baladir bin Ahmad Jalaluddin bin Raden Paku Ainul Yaqin atau dikenal dengan Sunan Giri..

KH. Asyari merupakan keturunan kyai dan bangsawan baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Meski demikian hal itu tidak membuat KH. Asyari berbangga hati dan bersikap takabur..

Sikap-sikap inilah yang diwariskan KH. Asyari kepada keturunannya, sebagaimana dituturkan oleh seorang keturunannya yaitu KH. Tubagus Kholidi yang kini memimpin Pesantren Ar-Rohmah serta sering memberikan ceramah di berbagai masjid dan majelis ta’lim di Bogor dan sekitarnya..

Garis keturunan dan kiprah para leluhurnya yang konsisten dalam melaksankan ajaran Islam dan melaksakan kiprahnya di masyarakat inilah, yang selalu mengisnpirasi KH. Asyari dalam kesehariannya. Terutama dalam melaksanakan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah..

Mengenai latar belakang pendidikan, KH. Asyari sejak kecil mendapatkan pendidikan dan bimbingan keislaman dari ayahnya. Selanjutnya ia diberangkatkan ke Surabaya oleh ayahnya untuk belajar disana. Mereka berdua menempuh perjalanan bersama dengan berjalan kaki dan dengan perbekalan yang seadanya..

Setibanya di pesantren, KH. Asyari kemudian dititipkan oleh KH. Khalif kepada pimpinan pesantren disana tanpa memberi bekal karena keterbatasan yang dimiliki oleh ayahnya. Namun kondisi tersebut, tidak menyurutkan semangat KH. Asyari untuk belajar..

Akan tetapi kondisi ini juga yang mendorong KH. Asyari untuk memikirkan sendiri biaya hidup selama berada di pesantren. Diantaranya adalah dengan menulis Al-Quran lalu menjualnya dan dibayar mahal dengan harga satu pasang kerbau..

Dari keahliannya itulah KH. Asyari selama di Surabaya kemudian ia jadi mempunyai banyak kerbau. Dan dari rezeki itu pulalah ia memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji bersama gurunya. Dan kesempatan bisa pergi ke Mekkah juga ia pergunakan untuk menuntut ilmu kepada para Ulama di sana..

Di Mekkah, KH. Asyari belajar langsung di bawah bimbingan Syekh Nawawi al-Bantany dalam bidang ilmu Tarekat dan Ilmu Fiqh. Ia belajar bersama KH. Bakri Plered dan KH. Gedang Cianjur..

Mengenai riwayat pernikahan KH. Asyari, pada saat di Mekkah, ia didatangi oleh KH. Muhiyan yang memiliki seorang putri bernama Eko yang kelak dinikahkan dengan KH. Asyari. Pernikahan tersebut terwujud atas restu dari Syekh Nawawi al-Bantany yang juga hadir dalam pernikahan tersebut..

Setelah itu, KH. Asyari pulang ke Indonesia dan membangun rumah tangga. Adapun putra-putri KH. Asyari ada 7 orang dan kesemuanya aktif dalam aktivitas sosial keagamaan mengikuti jejak ayah mereka..

Sejak kepulangannya dari Mekkah, KH. Asyari berniat mendirikan pesantren di daerah Cibereum, Cisarua, tempat tinggal istrinya. Di Cibereum, KH. Asyari menetap cukup lama sebelum dipindahkan ke Bakom..

Karena pendirian pesantren di Cibereum mendapat hambatan dari pihak Belanda yang hanya mengizinkan pendirian psantren dengan syarat membayar upeti. Namun KH. Asyari mempunyai pendirian yang kokoh dan menolak secara tegas ajakan Belanda tersebut..

Hal ini juga yang kemudian mendorong KH. Asyari untuk berpindah ke daerah Cilember. Namun pada saat di Cilember, Belanda masih bertindak sewenang-wenang dengan mempekerjakan secara paksa masyarakat dan para santri dalam program pembangunan jalan menuju puncak..

Nah gara-gara kondisi ini, maka KH. Asyari kemudian berpindah tempat lagi bersama para santrinya ke daerah lain, dengan mengutus putra tertuanya yakni KH. Syarkowi. Dan KH. Syarkowi ini yang kemudian berhasil menemukan lokasi di daerah Bakom, tempat dimana ia menetap dan berkiprah untuk umat hingga wafat..

Mengenai daerah Bakom yang terletak di kota Bogor, Kecamatan Bogor Selatan diperoleh keterangan menarik, yaitu mengenai pengertian Bakom yang telah dikenal luas..

Karena setidaknya ada dua pengertian: Bakom berasal dari kata “Leuweung Bukmu” atau Hutan Bisu sebagai lambang kebersahajaan, ketawadluan. Dalam keterangan lain, Bakom berasal dari kata “Bakna Elmu” yang berati kolam ilmu..

Selama hidup dan setelah wafat, tidak sedikit yang memberi gelar Waliyullah al-Asyari kepada KH. Asyari. Tentu gelar ini bukan tanpa alasan. Karena banyak faktor yang mendorong masyarakat secara sadar memberikan gelar itu..

Pada umumnya orang yang menyandang gelar wali mendapatkan kedudukan yang penting dalam sistem kemasyarkatan Islam. Baik karena kualitas spiritual mereka maupun karena peran sosial yang mereka perankan..

Selanjutnya untuk mengenang kiprah KH. Asyari yang wafat pada tahun 1319 H, maka pihak keluarga besar Bakom, keturunan KH. Asyari sering menyelenggarakan acara Haul yang pada setiap tahunnya..

***** ***** ***** ***** *****

Oke demikian informasi yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga ini bisa bermanfaat serta mohon maaf jika sekiranya ada kesalahan dan atau kekeliruan di dalam postingan yang kami tulis ini..

*Diolah dari berbagai sumber

No comments for "Biografi Lengkap Mama Asyari Bakom"