Banner BlogPartner Backlink.co.id Menyoroti Status Hukum Pernyataan Nikita Mirzani Ke Najwa Shihab Menyoroti Status Hukum Pernyataan Nikita Mirzani Ke Najwa Shihab - Auladus Sholihin

Menyoroti Status Hukum Pernyataan Nikita Mirzani Ke Najwa Shihab

ilustrasi gambar oleh suara.com (edited by auladus-sholihin.com)


Menyoroti Status Hukum Pernyataan Nikita Mirzani Ke Najwa Shihab


Deskripsi Massalah:


Belum lama ini, NM (Nikita Mirzani) melontarkan sebuah statement yang menyatakan bahwa NS (Najwa Shihab) pernah Check In di beberapa tempat. Dan sebagaimana kita tahu, kalau kata-kata "Ceck In" itu sering dikonotasikan negatif oleh masyarakat..


Ya kalimat Check In sering diartikan bahwa orang tersebut pernah menginap bersama lawan jenis yang bukan mahramnya dan juga bukan pasangan halalnya (suami/istri). Bahkan dalam pengertian lain, ia juga diduga telah tidur bareng dengan orang yang bersamanya pada saat itu..


Jadsi dengan kata lain, pernyataan NM ini secara tidak langsung telah menuduh seorang NS berselingkuh dengan pria yang bukan suaminya. Atau bahkan mungkin telah berzina dengan pria lain..


Pertanyaan:


Apakah tudingan NM terhadap NS ini termasuk Qadzaf?


Jawaban:


Menimbang:


Kalimat Qodf (menuduh zina), ada tiga macam:


- Soreh atau jelas. Yaitu ucapan yang tidak bisa diartikan ke selain qodf. Seperti ucapan yang menyebutkan kata-kata zina: Kamu telah berzina, Hai kamu pezina, atau dan lain-lain.


- Kinayah. Yaitu ucapan yang bisa diarahkan ke qodf. Seperti misalnya ucapan: Wahai orang fasik, Wahai orang yang kotor, Wahai orang yang tidak mencegah dari disentuh orang lain, Wahai orang yang suka berduaan dengan orang lain di tempat-tempat sepi, atau dan semacamnya. Meski demikian Kinayah ini bisa di arahkan ke qodf jika diniati qodf dan bukan qodf jika tidak diniati qodf.


- Ta'ridh atau sindiran. Yaitu kalimat yang tidak bisa diartikan sebagai qodf, meski diniati qodf. Seperti misalnya ucapan: Hai kamu anak halal, atau kalimat-kalimat yang semakna dengannya.


Menyimpulkan:


Tudingan NM terhadap NS ini hukumnya bisa dirinci sebagai berikut:

1. Termasuk qodaf dan wajib had, jika yang dimaksud kalimat tersebut adalah berzina.

2. Termasuk qodaf akan tetapi wajib ta'zir, jika yang dimaksud kalimat tersebut bukan berzina.


Referensi:


*١. كتاب؟*
الْقَذْفُ عَلَى ثَلاَثَةِ أَضْرُبٍ: صَرِيحٌ، وَكِنَايَةٌ، وَتَعْرِيضٌ.
فَاللَّفْظُ الَّذِي يُقْصَدُ بِهِ الْقَذْفُ: إِنْ لَمْ يَحْتَمِل غَيْرَهُ فَصَرِيحٌ، وَإِلاَّ *فَإِنْ فُهِمَ مِنْهُ الْقَذْفُ بِوَضْعِهِ فَكِنَايَةٌ*، وَإِلاَّ فَتَعْرِيضٌ (2) .

*٢. [العزيز شرح الوجيز المعروف بالشرح الكبير ط العلمية، ٣٣٦/٩]*
فاللفظ الذي يقصد به القذف ينقسم إلى صريح، وكناية، وتعريض:
أما الصريح: فهو لفظ الزنا؛ بأن يقول للرجل: زنيت أو يا زاني، وللمرأة زنيت أو يا زانية، والنيك، وإيلاج الحشفة، والذكر صريحان أيضا، لكن مع الوصف بالتحريم فإن مطلقها يقع على الحلال والحرام, والخلاف المذكور في "باب الإيلاء" في الجماع، وسائر الألفاظ هل هي صريحة تعود هاهنا؟ فما كان صريحا وانضم إليه الوصف بالتحريم، كان قذفا، ولو قال: علوت على رجل حتى دخل ذكره في فرجك، فهو قاذف، والرمي بالإصابة في الدبر بأن قال: "لاطك فلان" قذف، سواء خوطب به الرجل أو المرأة،
*وأما الكناية*، فكقوله للقرشي: يا نبطي وللرجل: يا فاجر ويا فاسق، ويا خبيث، وللمرأة: يا خبيثة، *ويا شبقة وأنت تحبين الخلوة، وفلانة لا ترد يد لامس، وما أشبه ذلك، فإن أراد النسبة إلى الزنا، فهو قذف، وإلا فليس بقذف.*
وأما التعريض، فليس بقذف، وإن أراده، وذلك كقوله: يابن الحلال، وأما أنا، فلست بزان، وأمي ليست بزانية، وما أحسن اسمك في الجيران، وما أشبه ذلك؛ لأن النية إنما تؤثر إذا احتمل اللفظ المنوي، وهاهنا لا دلالة [له] (3) في اللفظ ولا احتمال، وما يتخيل، ويفهم منه، فمستنده قرائن الأحوال. هذا هو الأصح، وفيه وجه: أنه كناية، فإذا انضمت إليه النية كان قذفا؛ اعتمادا على الفهم وحصول الإيذاء، وهذا ما أورده الشيخ أبو حامد وجماعة، وعن مالك وأحمد -رحمهما الله- أنه صريح في حال الغضب،

ﻭاﻟﻘﺬﻑ ﻳﻜﻮﻥ ﺻﺮﻳﺤﺎ ﻭﻛﻨﺎﻳﺔ ﻓﺎﻟﺼﺮﻳﺢ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺯﻧﻴﺖ ﻭﺯﻧﻴﺖ ﺑﻔﺘﺢ اﻟﺘﺎء ﻭﻛﺴﺮﻫﺎ ﻭﻳﺎ ﺯاﻧﻲ ﻭﻳﺎ ﺯاﻧﻴﺔ ﻭﻻ ﻳﻀﺮ اﻟﺘﻐﻴﻴﺮ ﺑﺎﻟﺘﺬﻛﻴﺮ ﻟﻠﻤﺆﻧﺚ ﻭﻋﻜﺴﻪ ﻭﺯﻧﻴﺖ ﻓﻲ اﻟﺠﺒﻞ ﺑﺎﻟﻴﺎء ﻭﻳﺎ ﻻﺋﻂ ﻭﻳﺎ ﻗﺤﺒﺔ ﻭاﻟﻜﻨﺎﻳﺔ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺯﻧﺄﺕ ﻓﻲ اﻟﺠﺒﻞ ﺃﻭ اﻟﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﺑﺎﻟﻬﻤﺰ ﻭﻳﺎ ﻓﺎﺟﺮ ﻭﻳﺎ ﻓﺎﺳﻖ ﻭﻳﺎ ﺧﺒﻴﺚ ﻭﻳﺎ ﻓﺎﺟﺮﺓ ﻭﻳﺎ ﻓﺎﺳﻘﺔ ﻭﻳﺎ ﺧﺒﻴﺜﺔ ﻭﺃﻧﺖ ﺗﺤﺒﻴﻦ اﻟﺨﻠﻮﺓ ﺃﻭ اﻟﻈﻠﻤﺔ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﺮﺩﻳﻦ ﻳﺪ ﻻﻣﺲ ﻭﻫﺬا ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻋﻦ ﺳﺮﻋﺔ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻭﻳﺎ ﻟﻮﻃﻲ ﻭﻳﺎ ﻣﺨﻨﺚ ﻭﻳﺎ ﻋﺎﻫﺮ ﻭﻳﺎ ﻋﻠﻖ *ﻓﺈﻥ ﺃﻧﻜﺮ ﺷﺨﺺ ﻓﻲ اﻟﻜﻨﺎﻳﺔ ﺇﺭاﺩﺓ ﻗﺬﻑ ﺑﻬﺎ ﺻﺪﻕ ﺑﻴﻤﻴﻨﻪ ﻷﻧﻪ ﺃﻋﺮﻑ ﺑﻤﺮاﺩﻩ ﻓﻴﺤﻠﻒ ﺃﻧﻪ ﻣﺎ ﺃﺭاﺩ ﻗﺬﻓﻪ ﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﻟﻻﻳﺬاء ﻭﻫﺬا ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﺴﺐ ﻭاﻟﺬﻡ ﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﻤﺰﺡ ﺃﻭ اﻟﻬﺰﻝ ﺃﻭ اﻟﻠﻌﺐ ﻓﻼ ﺗﻌﺰﻳﺮ*


نهاية الزين


Demikian ilmu dan informasi yang bisa kami berikan pada hari ini. Semoga bisa bermanfaat serta mohon maaf apabila ada kekurangan dan ketidak sempurnaan di dalam postingan ini..


Keterangan:


Artikel asli ditulis oleh Ust. Khotimi Bahri, namun dengan beberapa sedikit perubahan.


FYI: Beliau adalah seorang aktifis dakwah di daerah Kota Bogor dan juga aktif di beberapa ormas keagamaan seperti NU dan MUI.

No comments for "Menyoroti Status Hukum Pernyataan Nikita Mirzani Ke Najwa Shihab"