Banner BlogPartner Backlink.co.id Kisah Bersahajanya Seorang KH. Muchit Muzadi Kisah Bersahajanya Seorang KH. Muchit Muzadi - Auladus Sholihin

Kisah Bersahajanya Seorang KH. Muchit Muzadi

ilustrasi gambar oleh santrinews.com (edited by auladus-sholihin.com)


Kisah Bersahajanya Seorang KH. Muchit Muzadi


KH Abdul Muchit Muzadi atau yang akrab disapa Mbah Muchith adalah konseptor sejati pidato monumental KH. Achmad Shiddiq, tentang status syar’i NKRI pada Muktamar NU di Situbondo 1984. Ketika itu KH. Ahmad Siddiq dalam pidatonya menyebut bahwa NKRI adalah bentuk final perjuangan umat Islam Indonesia tentang Negara..


Selain itu KH Muchit Muzadi ini adalah seorang yang ‘alim nan khudlu’. Bahkan cenderung khumul, saking bersahajanya. Meski demikian anda takkan bisa mengeceknya selain kepada Mbah Muchit sendiri. Karena beliau selalu bilang; “Saya cuma tukang ketik”..



Dan memang semua orang mengakui ke’alimannya. Tapi menariknya Mbah Muchit sendiri malah ingin menghadirkan sosok dirinya yang hanya sebagai seorang ”santri selama-lamanya”. Salah satunya adalah dengan penuh disiplin, “penampilan ala kyai” sengaja ia hindari..


Saking bershajanya, bahkan Mbah Muchith ini mungkin tak punya jubah dan sorban. Soalnya orang-orang tak pernah melihatnya selain dengan peci hitamnya, yang mungkin tidak mahal harganya. Peci putih ala kyai haji seolah sirikan baginya..


Nah terkait ini, suatu ketika Gus Mus tak sengaja bertemu Mbah Muchith Muzadi di Surabaya. Setelah itu, terjadilah percakapan diantara dua kyai besar tersebut..


“Ada acara apa?” Mbah Muchith mulai bertanya..


“Pengajian”. Jawab Gus Mus..


“Sudah bawa jas sama sorban?” Mbah Muchith kembali bertanya..


Ditanya begitu, Gus Mus langsung mengernyitkan dahi sambil balik bertanya: “Memangnya kenapa?”


Lalu Mbah Muchith pun kembali menjawab dan sekaligus memberikan alasan dari pertanyaan sahabatnya itu: “Disini kalau nggak pakai jas dan sorban nggak laku”..


Selanjutnya Mbah Muchith pun menceritakan tentang pengalamannya menghadiri sebuah undangan ceramah dari sebuah pesantren. Dengan haaliyyah sehari-harinya yang penuh kesederhanaan, Mbah Muchith pun kemudian datang memenuhi undangan itu, dengan baju lengan panjang yang bersahaja, celana panjang dan kopyah hitam..


“Mari, mari silahkan duduk, Pak” sambut panitia kepada Mbah Muchit ketika itu. Namun sejurus kemudian beliau ditanya oleh mereka: “Bapak dari mana? Kok sepertinya kami belum kenal?”


“Dari Jember”. Mbah Muchith menjawab seperlunya..


“Wah, jauh sekali!” jawab panitia pada saat itu..


“Iya…” sanggah Mbah Muchit seketika..


“Kok tahu kalau disini ada pengajian?” panitia lalu bertanya lagi kepadanya..


“Iya…” jawab lagi Mbah Muchit..


“Oh begitu ya. Oke kalau begitu, mari silahkan duduk di tempat yang sudah disediakan” jawab panitia yang sekaligus mengakhiri percakapan diantara mereka pada saat itu..


Merasa orang itu adalah hadirin dari kalangan umum, maka panitia pun menempatkan Mbah Muchith di deretan kursi bagian belakang, dengan bersama “orang-orang awam”. Mbah Muchith pun menurut saja ketika itu..


Selanjutnya hingga agak larut, acara tak juga dimulai. Akibat itu, panitia makin lama makin kelihatan panik dengan mondar-mandir di antara kediaman kyai pesantrennya dan jalanan di sekitar lokasi acara..


Wajar jika panitia merasa panik pada saat itu. Sebab mereka tengah menunggu-nunggu sesuatu atau seseorang yang “tak kunjung datang”. Keadaan ini, membuat kyai pesantrennya sendiri yang pada akhirnya keluar menuju jalanan di sekitar TKP acara..


Selanjutnya Pak Kyai itu pun melewati deretan kursi bagian belakang, Dan akhira, dia pun seperti mengenali seseorang yang ternyata adalah Mbah Muchith..


“Lha ini apa! Kyai Muchith sudah disini ternyata!” tergopoh-gopoh Pak Kyai menghampiri Mbah Muchith ketika itu..


“Sudah ditunggu-tunggu dari tadi, Yai!” katanya dengan nada seperti menyesali..


“Saya sebenarnya sudah datang dari tadi” jawab Mbah Muchit kepadanya..


Selanjutnya tidak diceritakan apa reaksi panitia ketika itu. yang nyata-nyata sudah memperlakukan tidak sopan terhadap Mbah Muchit, yang notabene sebenarnya adalah tamu spesial di acara pengajian malam itu..


* * * * *


Mendengar cerita pengalaman Mbah Muchith, Gus Mus tertawa geli. Selanjutnya Gus Mus pun balas menceritakan pengalamannya diundang ceramah di Semarang..


Ketika itu karena pengajiannya di wilayah kota, Gus Mus pun ingin menyesuaikan diri. Seperti diantaranya berdandan seperti orang kota yakni pakai baju batik lengan panjang yang rapi sekali, peci hitam masih baru dan celana panjang necis lengkap dengan sepatu..


Selanjutnya saat beliau turun dari mobil, tergopoh-gopoh panitia menyongsongnya..


“Maaf, Pak! disini acaranya pengajian. Kalau jagong manten masih kesana lagi. Kira-kira dua ratus meter dari sini!”


*****


Kisah Mbah Muchit dan Gus Mus di atas (saat diundang ke sebuah acara pengajian), memang sebenarnya bertolak belakang. Yang satu ingin tampil bersahaja dengan tampilan seadanya. Sedang yang satu lagi ingin tampil necis dan rapih..


Akan tetapi sejatinya kedua kisah di atas menyimpulkan satu catatan untuk kita, bahwa sesederhana dan seistimewa apapun tampilan seorang kyai, tetap saja mereka harus kita hormati. Karena bagaimana pun mereka adalah guru-guru kita..


Meski demikian teladan yang paling hebat dan luar biasa diantara cerita di atas tentu kisah dari Mbah Muchit. Karena beliau seperti tak mau menonjolkan diri sebagai seorang kyai, ketika diundang di sebuah acara pengajian. Dan memang seperti itulah sosok seorang KH. Muchit Muzadi dalam kesehariannya yang selalu bersahaja dalam hal apapun..


Oke demikian informasi yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga ini bisa bermanfaat serta mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya..


Keterangan: Artikel asli ditulis oleh KH. Yahya Cholil Staquf (Ketum PBNU), namun dengan beberapa sedikit perubahan.

No comments for "Kisah Bersahajanya Seorang KH. Muchit Muzadi"